Pokok Bahasan
Pengertian backlog sebagai artefak hidup dalam Scrum
Struktur product backlog dan teknik penulisan user story
Penyusunan sprint backlog dengan pendekatan vertical slice
Pengertian backlog sebagai artefak hidup dalam Scrum
Struktur product backlog dan teknik penulisan user story
Penyusunan sprint backlog dengan pendekatan vertical slice
Pertemuan ini bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan menyusun product backlog dan sprint backlog secara terstruktur dalam konteks proyek pengembangan landing page. Mahasiswa akan memahami perbedaan mendasar antara kedua artefak Scrum tersebut: product backlog sebagai daftar kebutuhan keseluruhan produk yang bersifat dinamis dan terus berkembang, sementara sprint backlog merupakan subset terpilih yang dikomitmenkan untuk diselesaikan dalam satu sprint beserta rencana pengerjaannya.
Pembahasan utama mencakup teknik menulis user stories dengan format “Sebagai [pengguna], saya ingin [fitur] agar [manfaat]”, penentuan prioritas menggunakan metode MoSCoW (Must have, Should have, Could have, Won't have), serta estimasi usaha dengan story points atau planning poker. Mahasiswa juga akan mempelajari kriteria INVEST (Independent, Negotiable, Valuable, Estimable, Small, Testable) sebagai panduan kualitas backlog item yang baik.
Melalui studi kasus proyek landing page, mahasiswa akan berlatih mengidentifikasi elemen-elemen esensial seperti hero section, fitur unggulan, testimoni, formulir call-to-action, dan informasi kontak, kemudian menuangkannya ke dalam product backlog yang terprioritas serta memecahnya menjadi sprint backlog yang realistis untuk satu sprint berdurasi dua minggu.
Backlog merupakan daftar terurut yang berisi seluruh kebutuhan, fitur, perbaikan, dan pekerjaan teknis yang harus diselesaikan dalam sebuah proyek. Dalam kerangka kerja Scrum, backlog berfungsi sebagai sumber kebenaran tunggal (single source of truth) yang menjembatani visi produk dengan eksekusi teknis. Backlog bukanlah dokumen statis, melainkan artefak hidup yang terus berkembang seiring perubahan kebutuhan pengguna, umpan balik pasar, dan pembelajaran tim selama siklus pengembangan. Tanpa backlog yang terstruktur dengan baik, tim pengembang akan kehilangan arah prioritas dan berisiko mengerjakan hal-hal yang tidak memberikan nilai bisnis.
Dalam konteks proyek landing page, backlog menjadi sangat krusial karena landing page memiliki tujuan konversi yang spesifik—seperti pengumpulan leads, pendaftaran pengguna, atau penjualan produk. Setiap elemen dalam landing page, mulai dari headline, call-to-action button, formulir pendaftaran, hingga testimoni pelanggan, harus diprioritaskan berdasarkan dampaknya terhadap metrik konversi. Backlog membantu tim untuk fokus pada elemen-elemen yang paling berkontribusi terhadap tujuan bisnis terlebih dahulu, sehingga landing page dapat diluncurkan dalam bentuk Minimum Viable Product (MVP) dan diiterasi berdasarkan data performa nyata.
Product Backlog adalah daftar prioritas yang memuat seluruh kebutuhan fungsional dan non-fungsional dari sudut pandang pengguna akhir dan pemangku kepentingan. Product Owner bertanggung jawab penuh atas pengelolaan product backlog, termasuk menambah item baru, menyusun prioritas, dan memastikan setiap item memiliki nilai bisnis yang jelas. Setiap item dalam product backlog disebut Product Backlog Item (PBI) dan umumnya ditulis dalam format user story dengan struktur "Sebagai [pengguna], saya ingin [fitur] sehingga [manfaat]". Product backlog mencakup cakupan jangka panjang dan dapat berisi ratusan item yang akan dikerjakan dalam beberapa sprint mendatang.
Untuk proyek landing page, product backlog perlu disusun dengan mempertimbangkan tiga dimensi utama: konten, desain, dan fungsionalitas teknis. Item dalam product backlog landing page misalnya: "Sebagai calon pelanggan, saya ingin melihat testimoni pengguna sebelumnya sehingga saya yakin dengan kredibilitas produk", "Sebagai pengunjung mobile, saya ingin landing page terbuka cepat di perangkat saya sehingga saya tidak meninggalkan halaman", atau "Sebagai tim marketing, saya ingin formulir pendaftaran terhubung dengan sistem CRM sehingga data leads otomatis tersimpan". Prioritas ditentukan berdasarkan nilai bisnis, urgensi, ketergantungan, dan risiko—dengan fokus utama pada elemen yang langsung memengaruhi tingkat konversi.
Sprint Backlog adalah subset dari product backlog yang dipilih oleh tim pengembang untuk dikerjakan dalam satu sprint, biasanya berdurasi 1-4 minggu. Berbeda dengan product backlog yang dikelola Product Owner, sprint backlog sepenuhnya dimiliki oleh Tim Pengembang (Development Team) yang menentukan sendiri berapa banyak item yang dapat mereka selesaikan berdasarkan velocity historis dan kapasitas sprint. Sprint backlog tidak hanya berisi PBI terpilih, tetapi juga mencakup rencana teknis tentang bagaimana setiap item akan diimplementasikan, yang sering dipecah menjadi tugas-tugas kecil (tasks) berdurasi maksimal satu hari kerja.
Dalam proyek landing page, sprint backlog biasanya disusun dengan pendekatan vertikal slice—setiap sprint menghasilkan fitur yang dapat didemonstrasikan secara fungsional, bukan sekadar komponen parsial. Sebagai contoh, sprint pertama dapat berfokus pada "Landing page MVP dengan formulir pendaftaran dasar", yang dipecah menjadi tasks seperti: membuat struktur HTML/CSS halaman, mengimplementasikan formulir dengan validasi frontend, menghubungkan formulir ke endpoint API backend, dan melakukan pengujian lintas browser. Sprint kedua dapat menambahkan "Integrasi analitik dan A/B testing", lalu sprint ketiga fokus pada "Optimasi performa dan SEO". Pola vertikal slice ini memungkinkan tim untuk merilis nilai secara bertahap dan menerima umpan balik lebih awal.
Penulisan product backlog item yang efektif memerlukan keseimbangan antara kejelasan dan fleksibilitas. Teknik INVEST (Independent, Negotiable, Valuable, Estimable, Small, Testable) menjadi panduan standar untuk memvalidasi kualitas setiap PBI. PBI harus Independent agar dapat diprioritaskan tanpa tergantung pada item lain, Negotiable sehingga detail implementasi dapat didiskusikan, Valuable bagi pengguna atau bisnis, Estimable agar tim dapat memperkirakan upaya, Small agar muat dalam satu sprint, dan Testable sehingga keberhasilan dapat diverifikasi secara objektif. Setiap PBI juga dilengkapi dengan kriteria penerimaan (acceptance criteria) yang spesifik dan terukur.
Untuk estimasi, tim Scrum umumnya menggunakan Story Points berbasis deret Fibonacci (1, 2, 3, 5, 8, 13, 21) yang merepresentasikan ukuran relatif kompleksitas, upaya, dan ketidakpastian. Teknik Planning Poker digunakan dalam sesi Backlog Refinement di mana setiap anggota tim secara simultan mengungkapkan estimasi mereka menggunakan kartu, lalu mendiskusikan perbedaan signifikan untuk mencapai konsensus. Dalam proyek landing page, contoh estimasi: membuat formulir kontak dasar bernilai 3 story points, menambahkan validasi real-time 5 story points, mengintegrasikan payment gateway 13 story points. Estimasi ini membantu tim memprediksi berapa banyak item yang dapat diselesaikan per sprint dan kapan landing page akan mencapai tahap peluncuran.
Backlog Refinement (atau Backlog Grooming) adalah aktivitas berkelanjutan di mana Product Owner dan Tim Pengembang secara rutin meninjau, memperjelas, dan memprioritaskan ulang item dalam product backlog. Sesi refinement biasanya memakan 5-10% dari kapasitas sprint dan bertujuan memastikan bahwa item-item di puncak backlog cukup jelas dan terestimasi untuk sprint berikutnya—kondisi yang dikenal sebagai Definition of Ready (DoR). Aktivitas ini mencakup menambah detail pada user story, memecah PBI yang terlalu besar (epic) menjadi lebih kecil, menyesuaikan prioritas berdasarkan informasi baru, dan menghapus item yang sudah tidak relevan.
Untuk landing page, refinement menjadi sangat dinamis karena metrik performa nyata (bounce rate, conversion rate, time on page) dapat secara drastis mengubah prioritas backlog. Misalnya, setelah sprint pertama diluncurkan, data analitik menunjukkan bahwa 70% pengunjung meninggalkan halaman sebelum mencapai formulir—maka prioritas backlog langsung bergeser ke optimasi konten paro atas dan perbaikan kecepatan muat halaman. Teknik prioritas yang sering digunakan adalah MoSCoW (Must have, Should have, Could have, Won't have) yang membantu memisahkan fitur wajib rilis dari fitur opsional, serta Weighted Shortest Job First (WSJF) yang menghitung prioritas berdasarkan rasio nilai bisnis terhadap durasi pekerjaan.
Sebuah startup SaaS ingin meluncurkan landing page untuk produk manajemen proyek mereka dengan tujuan mengumpulkan 500 pendaftaran beta tester dalam satu bulan. Tim memulai dengan product backlog awal yang berisi 25 item, lalu memprioritaskan menggunakan kerangka MoSCoW. Kategori Must have mencakup: headline dan unique value proposition, formulir pendaftaran email, tombol CTA, mobile responsiveness, dan integrasi Mailchimp. Kategori Should have: testimoni beta tester, video demo produk, live chat widget, dan SEO meta tags. Kategori Could have: blog mini, pricing calculator, social proof counter real-time, dan integrasi analytics dashboard. Kategori Won't have (untuk saat ini): halaman login, dashboard demo, dan multi-bahasa.
Tim kemudian menyusun sprint backlog untuk sprint pertama berdurasi 2 minggu dengan memilih 5 item dari kategori Must have yang sudah memenuhi Definition of Ready. Sprint backlog dipecah menjadi task-task teknis:
SPRINT 1 BACKLOG - LANDING PAGE MVP (2 Minggu, Target Velocity: 21 SP)
Product Backlog Items (PBI):
├── PBI-01: Halaman landing page responsif (Story Points: 5)
│ ├── Task 1.1: Setup project Next.js + Tailwind (2 jam)
│ ├── Task 1.2: Implementasi layout hero section (3 jam)
│ ├── Task 1.3: Implementasi responsive breakpoints mobile/tablet/desktop (4 jam)
│ └── Task 1.4: Cross-browser testing (2 jam)
│
├── PBI-02: Formulir pendaftaran email (Story Points: 5)
│ ├── Task 2.1: Desain komponen form dengan validasi client-side (3 jam)
│ ├── Task 2.2: Buat API endpoint POST /api/subscribe (4 jam)
│ ├── Task 2.3: Implementasi honeypot anti-spam (2 jam)
│ └── Task 2.4: Unit test validasi email dan response handling (3 jam)
│
├── PBI-03: Integrasi Mailchimp API (Story Points: 3)
│ ├── Task 3.1: Setup Mailchimp API key dan audience list (1 jam)
│ ├── Task 3.2: Buat service layer mailchimp.subscribe() (3 jam)
│ └── Task 3.3: Error handling untuk duplikat email dan rate limit (2 jam)
│
├── PBI-04: Implementasi Google Analytics (Story Points: 3)
│ ├── Task 4.1: Setup GA4 property dan tracking ID (1 jam)
│ ├── Task 4.2: Integrasi gtag.js untuk page_view dan custom events (2 jam)
│ └── Task 4.3: Setup conversion goal tracking di GA dashboard (2 jam)
│
└── PBI-05: Halaman "Thank You" dan redirect logic (Story Points: 5)
├── Task 5.1: Desain halaman konfirmasi (2 jam)
├── Task 5.2: Logic redirect 302 setelah form submit sukses (1 jam)
└── Task 5.3: Tracking konversi: event 'beta_signup_complete' (2 jam)
Acceptance Criteria untuk PBI-02 (Formulir Pendaftaran):
✅ Field email wajib diisi, format divalidasi dengan regex
✅ Pesan error inline muncul saat validasi gagal
✅ Data tersimpan di Mailchimp audience dalam < 2 detik
✅ Halaman redirect ke /thank-you dalam < 1 detik setelah submit
✅ Tidak ada email duplikat dalam satu sesi
✅ WCAG 2.1 AA compliance untuk aksesibilitas form
Pada akhir sprint pertama, tim berhasil menyelesaikan 4 dari 5 PBI dengan velocity aktual 16 story points. PBI-03 (integrasi Mailchimp) mengalami kendala teknis pada rate limiting API sehingga dipindahkan ke sprint berikutnya. Retrospeksi sprint mengidentifikasi bahwa task pengujian perlu waktu lebih besar dari estimasi awal, sehingga tim menyesuaikan capacity planning untuk sprint kedua. Backlog refinement pasca-sprint menghasilkan 3 PBI baru berdasarkan umpan balik dari 15 beta tester yang telah mendaftar, dan prioritas bergeser ke penambahan social proof dan optimasi mobile load time yang ditemukan memiliki metrik bounce rate tertinggi.
Belum ada sesi presensi untuk pertemuan ini.
Tanpa deadline
Unggah tugas Scrum anda pada form berikut.
08 Jul 2026, 23:50 WIB