Ruang Belajar Terbuka E-Learning
P6 Memahami sprint planning
AGILE AND SCRUM METHODE

Memahami sprint planning

Pertemuan 6 dari 16

Pokok Bahasan

1

Definisi dan tujuan Sprint Planning dalam Scrum

2

Tiga pertanyaan kunci Sprint Planning menurut Scrum Guide

3

Tahapan WHAT dan HOW dalam Sprint Planning

Ringkasan Materi

Sprint Planning adalah sebuah event penting dalam kerangka kerja Scrum yang menandai dimulainya setiap sprint. Tujuan utama dari sesi ini adalah untuk menyepakati tujuan sprint (sprint goal) serta menentukan item-item dari product backlog yang akan dikerjakan oleh tim Scrum selama sprint berlangsung, dalam durasi timebox maksimal delapan jam untuk sprint satu bulan. Melalui sprint planning, seluruh anggota tim pengembang (developers), product owner, dan scrum master berkolaborasi untuk menyelaraskan pemahaman mengenai prioritas bisnis, kapasitas tim, serta definisi selesai (definition of done) yang berlaku.

Pertemuan ini akan membahas tiga pertanyaan fundamental yang menjadi landasan sprint planning: mengapa sprint ini bernilai (why), apa yang dapat diselesaikan dalam sprint ini (what), dan bagaimana pekerjaan yang dipilih akan diselesaikan (how). Mahasiswa akan mempelajari peran product owner dalam menyajikan product backlog yang telah diurutkan berdasarkan nilai bisnis, peran developers dalam menegosiasikan item yang realistis untuk diambil berdasarkan kapasitas dan velocity historis, serta pentingnya mendekomposisi product backlog item menjadi task-task teknis yang lebih kecil dan terukur.

Poin utama yang akan dibahas mencakup input dan output sprint planning, teknik estimasi berbasis kapasitas tim, pembentukan sprint goal yang terukur dan inspiratif, serta praktik pembuatan sprint backlog yang transparan. Selain itu, mahasiswa akan diajak untuk memahami berbagai tantangan umum yang muncul dalam sprint planning—seperti scope creep, optimisme berlebihan, dan miskomunikasi prioritas—serta strategi praktis untuk menanganinya agar setiap sprint berjalan efektif dan menghasilkan increment yang bernilai.

Detail Materi

Pengertian Sprint Planning

Sprint Planning adalah sebuah event dalam kerangka kerja Scrum yang menandai dimulainya setiap sprint. Dalam pertemuan ini, seluruh Scrum Team — yang terdiri dari Product Owner, Scrum Master, dan Development Team — berkolaborasi untuk menentukan pekerjaan apa yang akan diselesaikan selama sprint mendatang serta bagaimana pekerjaan tersebut akan dilaksanakan. Sprint Planning memiliki batasan waktu (time-box) maksimal delapan jam untuk sprint berdurasi satu bulan, atau secara proporsional lebih singkat untuk sprint dengan durasi yang lebih pendek. Tujuan utama dari Sprint Planning adalah menghasilkan Sprint Goal yang jelas, serta Sprint Backlog yang berisi item-item Product Backlog terpilih beserta rencana pengerjaannya.

Keberhasilan sebuah sprint sangat bergantung pada kualitas perencanaan yang dilakukan dalam Sprint Planning. Tanpa perencanaan yang matang, tim berisiko menghadapi ambiguitas prioritas, ketidakseimbangan beban kerja, dan kegagalan mencapai tujuan sprint. Oleh karena itu, Sprint Planning bukan sekadar pertemuan administratif, melainkan forum strategis di mana tim menyelaraskan pemahaman terhadap nilai bisnis yang harus dihasilkan serta kapasitas teknis yang tersedia. Dalam praktiknya, Sprint Planning yang efektif membutuhkan Product Backlog yang telah di-refine sebelumnya sehingga item-item yang akan didiskusikan sudah berada dalam kondisi ready dengan kriteria penerimaan yang terdefinisi dengan baik.

Tiga Pertanyaan Kunci dalam Sprint Planning

Scrum Guide menguraikan bahwa Sprint Planning menjawab tiga pertanyaan fundamental yang menjadi kerangka acuan seluruh aktivitas perencanaan. Pertanyaan pertama: Mengapa sprint ini bernilai? Product Owner bertanggung jawab mengusulkan bagaimana produk dapat meningkatkan nilai dan kegunaannya dalam sprint kali ini. Seluruh Scrum Team kemudian berkolaborasi mendefinisikan Sprint Goal yang mengomunikasikan alasan mengapa sprint ini bernilai bagi para pemangku kepentingan (stakeholders). Sprint Goal harus bersifat spesifik, terukur, dan memberikan panduan yang jelas tentang hasil akhir yang diharapkan, misalnya: "Memungkinkan pengguna untuk melakukan pembayaran melalui dompet digital dan menyelesaikan proses checkout dalam waktu kurang dari tiga menit."

Pertanyaan kedua: Apa yang bisa diselesaikan dalam sprint ini? Development Team, melalui negosiasi dengan Product Owner, memilih item-item dari Product Backlog yang akan dimasukkan ke dalam sprint saat ini. Pemilihan ini didasarkan pada kapasitas tim (velocity historis), kompleksitas item, serta keselarasan dengan Sprint Goal. Semakin baik pemahaman tim terhadap domain dan teknologi yang digunakan, semakin akurat pula estimasi dan perencanaan yang dapat dibuat. Pertanyaan ketiga: Bagaimana pekerjaan yang dipilih akan diselesaikan? Untuk setiap item Product Backlog yang terpilih, Development Team mendekomposisinya menjadi tugas-tugas teknis (tasks) yang lebih kecil dan terukur. Dekomposisi ini biasanya menghasilkan tugas-tugas dengan estimasi pengerjaan tidak lebih dari satu hari (one-day rule). Hasil dari proses ini adalah Sprint Backlog yang terdiri dari Sprint Goal, item Product Backlog terpilih, serta rencana detail pengerjaannya.

Tahapan Pelaksanaan Sprint Planning

Secara praktis, Sprint Planning umumnya dibagi menjadi dua bagian utama meskipun tetap merupakan satu kesatuan pertemuan. Bagian pertama (WHAT): fokus pada penentuan apa yang akan dikerjakan. Product Owner mempresentasikan visi produk, tujuan bisnis, dan item Product Backlog yang telah diprioritaskan. Development Team kemudian memberikan masukan terkait kelayakan teknis, dependensi, dan risiko dari setiap item. Diskusi ini bersifat kolaboratif dan sering kali melibatkan negosiasi antara nilai bisnis yang diinginkan dengan realitas teknis yang dihadapi tim. Contoh nyata: dalam pengembangan aplikasi e-commerce, Product Owner mengusulkan fitur rekomendasi produk berbasis AI sebagai prioritas sprint, namun Development Team menginformasikan bahwa integrasi mesin rekomendasi membutuhkan penyelesaian modul katalog produk terlebih dahulu sehingga urutan pengerjaan disesuaikan.

Bagian kedua (HOW): fokus pada perencanaan teknis tentang bagaimana item yang dipilih akan diimplementasikan. Development Team melakukan dekomposisi setiap item Product Backlog menjadi unit-unit pekerjaan teknis yang lebih kecil. Setiap tugas didiskusikan hingga seluruh anggota tim memiliki pemahaman bersama tentang pendekatan teknis yang akan digunakan. Dalam konteks pemrograman, dekomposisi fitur "halaman checkout pembayaran" misalnya dapat dipecah menjadi: pembuatan komponen antarmuka formulir checkout, implementasi validasi data pembayaran di sisi klien, pembangunan API endpoint untuk pemrosesan transaksi, integrasi dengan payment gateway pihak ketiga, serta penulisan uji otomatis untuk seluruh alur. Pendekatan ini memastikan tidak ada aspek teknis yang terlewatkan dan setiap anggota tim memahami kontribusinya masing-masing.

Sprint Backlog dan Sprint Goal

Sprint Goal merupakan tujuan tunggal yang koheren yang ingin dicapai selama sprint berlangsung. Sprint Goal berfungsi sebagai komitmen tim dan memberikan fleksibilitas dalam hal pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mencapainya. Jika ternyata pekerjaan yang direncanakan berbeda dari ekspektasi awal, Development Team berkolaborasi dengan Product Owner untuk menegosiasikan ruang lingkup Sprint Backlog tanpa mengubah Sprint Goal. Prinsip ini mencerminkan sifat empiris Scrum: rencana bersifat adaptif, sementara tujuan tetap menjadi pemandu arah. Sebagai contoh, Sprint Goal "pengguna dapat mencari produk dengan filter harga dan kategori" tetap dapat dicapai meskipun implementasi filter berbasis rentang harga perlu disederhanakan dari slider interaktif menjadi input teks karena keterbatasan waktu.

Sprint Backlog adalah himpunan item Product Backlog yang dipilih untuk sprint, ditambah dengan rencana detail untuk menghantarkan increment produk dan mewujudkan Sprint Goal. Kepemilikan Sprint Backlog sepenuhnya berada pada Development Team, yang berarti hanya Development Team yang dapat menambah, mengurangi, atau memodifikasi item di dalamnya selama sprint berlangsung. Sprint Backlog bersifat hidup (living artifact) — tim memperbaruinya setiap hari selama Daily Scrum untuk merefleksikan kemajuan aktual. Dalam konteks basis data, Sprint Backlog dapat direpresentasikan dan dikelola menggunakan sistem manajemen proyek seperti Jira atau Azure DevOps, atau bahkan dalam bentuk yang lebih sederhana menggunakan query untuk melacak status tugas.

-- Contoh representasi relasional Sprint Backlog dalam sistem basis data
-- Tabel untuk menyimpan item Sprint Backlog beserta status pengerjaannya

CREATE TABLE sprint (
    id              INT PRIMARY KEY,
    nama            VARCHAR(100),
    tanggal_mulai   DATE,
    tanggal_selesai DATE,
    sprint_goal     VARCHAR(255),
    status          VARCHAR(20) CHECK (status IN ('aktif', 'selesai', 'dibatalkan'))
);

CREATE TABLE sprint_backlog_item (
    id                  INT PRIMARY KEY,
    sprint_id           INT REFERENCES sprint(id),
    product_backlog_id  INT NOT NULL,
    judul               VARCHAR(255),
    tipe                VARCHAR(20) CHECK (tipe IN ('user_story', 'bug', 'task', 'spike')),
    story_point         INT,
    prioritas           INT,
    status              VARCHAR(20) DEFAULT 'to_do',
    assignee            VARCHAR(100),
    FOREIGN KEY (sprint_id) REFERENCES sprint(id)
);

-- Query untuk memantau kemajuan sprint berdasarkan story point
SELECT 
    s.nama AS sprint,
    s.sprint_goal,
    COUNT(sbi.id) AS total_item,
    SUM(sbi.story_point) AS total_story_point,
    SUM(CASE WHEN sbi.status = 'done' THEN sbi.story_point ELSE 0 END) AS completed_points
FROM sprint s
JOIN sprint_backlog_item sbi ON s.id = sbi.sprint_id
WHERE s.status = 'aktif'
GROUP BY s.nama, s.sprint_goal;

Praktik Efektif dan Anti-Pola dalam Sprint Planning

Agar Sprint Planning berjalan efektif, beberapa praktik perlu diterapkan secara konsisten. Product Backlog harus dalam kondisi siap sebelum Sprint Planning dimulai, artinya item-item di bagian atas backlog telah melalui proses refinement yang memadai — memiliki deskripsi yang jelas, kriteria penerimaan (acceptance criteria) yang terukur, dan estimasi yang telah divalidasi oleh Development Team. Tim sebaiknya menggunakan data historis seperti velocity rata-rata beberapa sprint terakhir sebagai acuan kapasitas, bukan sekadar intuisi. Selain itu, seluruh anggota tim harus hadir dan berpartisipasi aktif — Sprint Planning bukan presentasi satu arah dari Product Owner, melainkan sesi kolaborasi intensif. Dalam konteks tim yang terdistribusi secara geografis, penggunaan papan kolaborasi digital seperti Miro atau Mural sangat membantu memvisualisasikan dekomposisi tugas dan menjaga keterlibatan seluruh anggota tim.

Di sisi lain, terdapat beberapa anti-pola (anti-patterns) yang sering terjadi dan harus dihindari. Anti-pola pertama adalah overcommitment, di mana tim mengambil terlalu banyak pekerjaan karena tekanan dari Product Owner atau pemangku kepentingan tanpa mempertimbangkan kapasitas aktual. Hal ini hampir selalu berujung pada sprint yang gagal dan penurunan moral tim. Kedua, tidak adanya Sprint Goal yang jelas menyebabkan tim bekerja tanpa arah — setiap anggota mengerjakan item masing-masing tanpa keterkaitan dengan tujuan kolektif. Ketiga, dekomposisi tugas yang terlalu dangkal mengakibatkan tugas-tugas berukuran besar dengan estimasi beberapa hari, yang menyulitkan pelacakan kemajuan harian dan meningkatkan risiko keterlambatan. Keempat, Product Owner tidak tersedia selama Sprint Planning sehingga Development Team harus membuat asumsi tentang kebutuhan bisnis yang sering kali keliru. Menghindari anti-pola ini membutuhkan disiplin tim dan keberanian untuk melakukan negosiasi yang sehat berdasarkan data dan kapasitas nyata.

Contoh Kasus Nyata: Sprint Planning pada Pengembangan Aplikasi Perbankan Digital

Bayangkan sebuah tim Scrum yang sedang mengembangkan aplikasi perbankan digital untuk sebuah bank menengah. Product Owner membawa temuan riset pengguna bahwa 68% nasabah menginginkan fitur transfer antar bank yang lebih cepat dan transparan. Berdasarkan data tersebut, Product Owner mengusulkan Sprint Goal: "Nasabah dapat melakukan transfer antar bank secara real-time dan melacak status transaksi." Development Team yang terdiri dari lima engineer menganalisis kapasitas mereka berdasarkan velocity tiga sprint terakhir yang rata-rata menyelesaikan 32 story point. Mereka kemudian mengevaluasi item Product Backlog terkait: integrasi dengan API BI-FAST (dengan estimasi 13 story point), pembangunan antarmuka formulir transfer (8 story point), implementasi halaman riwayat dan pelacakan transaksi (8 story point), serta pengujian keamanan dan enkripsi data (5 story point). Total estimasi adalah 34 story point — sedikit di atas rata-rata kapasitas — sehingga tim memutuskan untuk menerima seluruh item dengan catatan bahwa fitur pelacakan transaksi dapat disederhanakan jika waktu tidak mencukupi, tanpa mengorbankan Sprint Goal.

Selama bagian HOW dari Sprint Planning, Development Team mendekomposisi setiap item menjadi tugas teknis. Item integrasi API BI-FAST dipecah menjadi: studi dokumentasi teknis BI-FAST, implementasi modul autentikasi OAuth 2.0 untuk koneksi antar bank, pembangunan adapter untuk format pesan ISO 8583, implementasi mekanisme retry dan circuit breaker untuk menangani kegagalan jaringan, serta penulisan uji integrasi. Hasil dekomposisi ini menghasilkan 23 tugas teknis yang masing-masing memiliki estimasi antara 2 hingga 8 jam kerja. Tim kemudian mendistribusikan tugas berdasarkan keahlian dan menyepakati bahwa dua engineer akan fokus pada integrasi API (komponen paling berisiko), dua engineer pada pengembangan antarmuka pengguna, dan satu engineer pada pengujian keamanan. Dengan pendekatan terstruktur ini, setiap anggota tim memahami dengan jelas apa yang harus dikerjakan, ketergantungan antar tugas, serta bagaimana kontribusi masing-masing mendukung pencapaian Sprint Goal.

Presensi

0 sesi

Belum ada sesi presensi untuk pertemuan ini.

Tugas Kelas

2 tugas

Implementasi Scrum pada bisnis nyata

Tanpa deadline

Belum kumpul

Unggah tugas Scrum anda pada form berikut.

Ujian Akhir Semester

08 Jul 2026, 23:50 WIB

Pertemuan 16 Terlambat

Kerjakan sesuai petunjuk di lembar Soal UAS